Prospek kerja bagi lulusan politeknik baru di Singapura menunjukkan stabilitas pada 2025, di tengah ketidakpastian ekonomi global. Survei Ketenagakerjaan Lulusan terbaru yang dirilis pada 15 Januari menunjukkan bahwa 54,2 persen lulusan politeknik memperoleh pekerjaan tetap penuh waktu, sedikit turun dibandingkan 54,6 persen pada 2024.
Meski demikian, kabar positif datang dari sisi pendapatan. Gaji kotor bulanan rata-rata bagi lulusan yang bekerja penuh waktu meningkat dari S$2.900 pada 2024 menjadi S$3.000 pada 2025. Kenaikan ini mencerminkan permintaan yang masih sehat terhadap talenta tingkat pemula di sejumlah sektor.
Menghadirkan Perubahan Metodologi Singapura
Berdasarkan bidang studi, lulusan ilmu humaniora dan ilmu sosial kembali mencatatkan gaji awal tertinggi, dengan rata-rata S$3.200 per bulan. Posisi ini diikuti oleh lulusan ilmu kesehatan, yang meraih gaji rata-rata S$3.011.
Secara keseluruhan, sekitar 90 persen lulusan politeknik pada 2025 berhasil mendapatkan pekerjaan dalam waktu enam bulan setelah lulus atau setelah menyelesaikan wajib militer penuh waktu. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan 90,4 persen pada tahun sebelumnya, namun tetap menunjukkan tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi.
Survei kali ini juga menghadirkan perubahan metodologi penting. Untuk pertama kalinya, hasil survei mencerminkan apakah lulusan telah mendapatkan pekerjaan, bukan lagi sekadar klasifikasi bekerja atau menganggur. Kategori telah mendapatkan pekerjaan mencakup mereka yang sudah bekerja penuh waktu, paruh waktu, atau lepas, lulusan yang telah menerima tawaran kerja namun belum mulai bekerja, serta mereka yang sedang mengambil langkah aktif untuk memulai usaha sendiri.
Pada survei sebelumnya, lulusan yang belum mulai bekerja meski telah menerima tawaran kerja atau berencana berwirausaha masih diklasifikasikan sebagai penganggur. Perubahan ini memberikan gambaran yang lebih akurat tentang transisi lulusan ke dunia kerja.
Untuk pertama kalinya pula, survei ini merinci kondisi lulusan yang belum mendapatkan pekerjaan. Kelompok ini terbagi menjadi tiga kategori: lulusan yang menerima tetapi menolak tawaran kerja, lulusan yang telah melamar namun belum menerima tawaran, serta lulusan yang tidak sedang mencari pekerjaan penuh waktu.
Sebanyak 12.835 lulusan politeknik berpartisipasi dalam survei 2025. Mereka terdiri dari 7.785 lulusan baru dari total 10.169 lulusan politeknik, serta 5.050 lulusan angkatan 2022 yang menyelesaikan wajib militer penuh waktu antara 1 April 2024 hingga 31 Maret 2025. Dari total responden, 43,9 persen berada dalam angkatan kerja, sementara 56,1 persen yang belum bekerja memilih untuk melanjutkan atau mempersiapkan studi lebih lanjut. Sisanya tidak sedang mencari pekerjaan.
Pernyataan Bersama Singapura
Dalam pernyataan bersama, lima politeknik menyebutkan bahwa survei ini mencerminkan kondisi enam bulan setelah kelahiran lulusan ke pasar kerja, dan angka ketenagakerjaan diperkirakan akan meningkat seiring waktu. Pernyataan tersebut juga mengacu pada data pasar tenaga kerja dari Kementerian Tenaga Kerja Singapura, yang menunjukkan bahwa total lapangan kerja tetap tumbuh pada 2025.
Pertumbuhan lapangan kerja pada kuartal ketiga 2025 terutama didorong oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, serta kesehatan dan layanan sosial. Sebaliknya, sektor informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan yang lebih lambat akibat kondisi ekonomi global yang masih tidak menentu.
Jumlah lowongan kerja tingkat pemula juga meningkat signifikan, dari 26.000 posisi pada September 2024 menjadi 39.000 posisi pada September 2025. Bagi lulusan yang membutuhkan dukungan tambahan, tersedia layanan konseling karier di politeknik masing-masing, pameran karier, serta sumber daya dari Workforce Singapore Tuna55 dan Institut Ketenagakerjaan dan Kemampuan Kerja NTUC. Selain itu, lulusan juga dapat mempertimbangkan Program Magang Industri Lulusan dan GRIT@Gov, yang diluncurkan pada Oktober 2025.
Karen Lim, manajer kemitraan strategis di RecruitHaus, menilai pasar kerja lulusan baru telah mengalami pergeseran signifikan. Menurutnya, perusahaan kini semakin menekankan keterampilan praktis dibanding sekadar kualifikasi akademis.
Perusahaan menjadi lebih selektif. Mereka mencari pengalaman magang yang relevan, portofolio yang nyata, serta kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah sejak awal, ujarnya. Ia menambahkan bahwa lulusan perlu bersiap menghadapi proses pencarian kerja yang lebih panjang, seiring meningkatnya ekspektasi dunia usaha terhadap kesiapan kerja para kandidat muda.