Para ilmuwan dan ahli meteorologi memperingatkan kondisi Pegunungan Himalaya yang kini semakin gersang dan berbatu. Wilayah yang seharusnya tertutup lapisan salju tebal pada musim dingin justru mengalami penurunan curah salju secara drastis. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius terkait krisis air serta meningkatnya risiko bencana ekologis di kawasan tersebut.
Para ahli mencatat bahwa dalam lima tahun terakhir, sebagian besar musim dingin menunjukkan penurunan curah salju yang signifikan dibandingkan rata-rata periode 1980 hingga 2020. Kenaikan suhu global menyebabkan salju yang turun mencair jauh lebih cepat. Di sisi lain, wilayah dataran rendah kini lebih sering diguyur hujan dibandingkan salju—sebuah fenomena yang dalam kajian ilmiah disebut sebagai snow drought atau kekeringan salju. Temuan ini dilaporkan oleh BBC, Sabtu (17/1/2026).
Data dari Lembaga Meteorologi dan Ilmuwan
Data dari berbagai lembaga meteorologi memperkuat kekhawatiran tersebut. Departemen Meteorologi India mencatat hampir tidak adanya curah hujan dan salju di sebagian besar wilayah India utara sepanjang Desember lalu. Bahkan, lembaga itu memprediksi wilayah barat laut India—termasuk Kashmir dan Ladakh—berpotensi mengalami penurunan curah hujan dan salju hingga 86 persen dari rata-rata jangka panjang pada periode Januari hingga Maret.
Sementara itu, laporan dari Pusat Internasional untuk Pengembangan Gunung Terpadu (ICIMOD) menunjukkan bahwa musim dingin 2024–2025 mencatat ketahanan salju terendah dalam 23 tahun terakhir, yakni sekitar 24 persen di bawah kondisi normal.
Kieran Hunt, peneliti utama meteorologi tropis di University of Reading, Inggris, menegaskan bahwa penurunan ini didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.
Kini terdapat bukti konsisten dari berbagai kumpulan data yang menunjukkan bahwa curah hujan musim dingin di wilayah Himalaya memang mengalami penurunan, ujar Hunt.
Kondisi serupa juga terjadi di Nepal. Binod Pokharel, profesor madya meteorologi di Universitas Tribhuvan, Kathmandu, menggambarkan situasi kering ekstrem di kawasan Himalaya tengah.
Nepal tidak mengalami curah hujan sejak Oktober, dan tampaknya sisa musim dingin ini akan tetap kering. Pola serupa terjadi hampir setiap musim dingin dalam lima tahun terakhir, ungkap Pokharel.
Perubahan Pola Cuaca Ekstrem Menurut Ilmuwan
Para ahli mengaitkan penurunan curah hujan musim dingin dengan melemahnya fenomena gangguan angin barat. Sistem tekanan rendah yang berasal dari kawasan Mediterania ini biasanya membawa udara dingin dan presipitasi ke India utara, Pakistan, serta Nepal.
Menurut Hunt, analisis timnya menunjukkan adanya dua faktor utama. Pertama, gangguan angin barat kini menjadi lebih lemah dan cenderung bergerak lebih ke utara. Kedua, kondisi tersebut menghambat kemampuan sistem ini menyerap kelembapan dari Laut Arab, sehingga curah hujan yang dihasilkan semakin minim.
Departemen cuaca India bahkan mengklasifikasikan gangguan angin barat sepanjang musim dingin ini sebagai lemah, karena hanya menghasilkan hujan dan salju dalam jumlah sangat terbatas.
Ancaman Krisis Air dan Bencana Ekologis
Dampak dari berkurangnya lapisan salju di Himalaya sangat luas. Air lelehan salju merupakan sumber utama bagi sistem sungai besar di kawasan tersebut, yang menopang kebutuhan air minum, irigasi pertanian, dan pembangkit listrik tenaga air tuna55 bagi ratusan juta orang.
ICIMOD memperingatkan bahwa karena air lelehan salju menyumbang sekitar seperempat dari total limpasan tahunan di 12 daerah aliran sungai utama di kawasan Himalaya, anomali ini berpotensi mengancam keamanan air hampir dua miliar penduduk.
Selain risiko krisis air, minimnya presipitasi juga meningkatkan potensi kebakaran hutan di wilayah dataran rendah. Lebih jauh, menyusutnya gletser dan lapisan salju membuat struktur pegunungan menjadi tidak stabil akibat hilangnya semen alami yang selama ini menjaga kestabilannya.
Akibatnya, frekuensi bencana seperti longsor, runtuhan batu, hingga banjir akibat luapan danau glasial diperkirakan akan meningkat. Kawasan Himalaya kini menghadapi ancaman ganda: kehilangan gletser akibat pemanasan global, sekaligus berkurangnya pasokan salju baru. Para pakar memperingatkan bahwa kombinasi berbahaya ini dapat membawa konsekuensi besar bagi ekosistem dan kehidupan manusia di wilayah tersebut.