Keputusan Kamboja mengekstradisi Chen Zhi ke Tiongkok menandai babak baru dalam dinamika geopolitik Asia Tenggara. Langkah ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan erat dengan tekanan diplomatik, konflik perbatasan, serta kepentingan strategis Beijing di kawasan.
Profil Chen Zhi Asal Fujian
Chen Zhi, pengusaha kelahiran Fujian berusia 38 tahun yang dinaturalisasi sebagai warga negara Kamboja pada 2014, ditangkap di Phnom Penh pada 6 Januari dan diekstradisi sehari kemudian atas permintaan Tiongkok. Waktu penangkapan itu mencuri perhatian karena terjadi hanya beberapa hari setelah gencatan senjata antara Kamboja dan Thailand pada 27 Desember 2025.
Banyak pengamat menilai momentum ini bukan kebetulan. Beijing berperan penting sebagai mediator konflik, termasuk menjadi tuan rumah pertemuan trilateral di Yunnan. Dalam waktu bersamaan, China juga tengah meningkatkan tekanan terhadap negara-negara Asia Tenggara yang dituding menjadi basis sindikat penipuan daring lintas negara—kejahatan yang sebagian besar korbannya adalah warga China.
Di sisi lain, Thailand membingkai konflik perbatasan sebagai bagian dari perang melawan penipuan transnasional. Pemerintah Bangkok menjadikan kerja sama Phnom Penh dalam memberantas sindikat penipuan sebagai syarat utama gencatan senjata. Bagi Kamboja yang berada dalam posisi militer lebih lemah, tuntutan ini sulit ditolak.
Tekanan Berlapis untuk Chen Zhi
Menurut Jacob Sims, peneliti kejahatan transnasional di Universitas Harvard, Kamboja sedang berada dalam tekanan berlapis—baik regional maupun domestik. Setelah sebelumnya Amerika Serikat dan Inggris menjatuhkan sanksi dan dakwaan terhadap Chen dan jaringan bisnisnya pada Oktober lalu, posisi sang taipan berubah dari aset strategis menjadi beban politik.
Sebagai pendiri Prince Group, Chen memiliki kepentingan besar di sektor real estat, perbankan, hingga penerbangan. Kedekatannya dengan elite Kamboja sangat nyata. Ia pernah menjabat penasihat Hun Sen dan putranya, Hun Manet, serta menyandang gelar kehormatan neak oknha.
Namun, setelah sanksi Tuna55 dijatuhkan, Kamboja memilih langkah drastis: mencabut kewarganegaraan Chen dan mendeportasinya. Langkah ini sekaligus membelok dari sikap resmi sebelumnya yang membela legalitas Prince Group. Sims menilai ekstradisi ke China adalah “jalan termudah” untuk meredam tekanan Barat sekaligus menjaga agar kasus sensitif ini tidak disidangkan di pengadilan AS.
Bagi Beijing, ekstradisi Chen dipromosikan sebagai kemenangan penegakan hukum lintas negara. Media pemerintah bahkan menayangkan gambar Chen diborgol di dalam pesawat China Southern Airlines, simbol pesan keras terhadap kejahatan penipuan daring.
Meski demikian, pertanyaan besar masih menggantung: apakah ini awal pembongkaran industri penipuan di Kamboja, atau hanya pengorbanan satu figur besar demi menjaga stabilitas politik? Dengan ekonomi gelap yang disebut menyumbang hingga separuh PDB nasional, banyak pihak ragu perubahan besar akan terjadi tanpa tekanan internasional yang konsisten.