Dalam rangkaian seri Tokoh-Tokoh Hebat Manchester, Sir Alex Ferguson menjadi sosok yang tak terpisahkan dari kisah kejayaan kota ini. Ia bukan hanya manajer tersukses dalam sejarah Manchester United, tetapi juga figur yang membentuk identitas klub selama lebih dari seperempat abad.
Profil Sir Alex Ferguson
Lahir di Govan, Glasgow, pada 31 Desember 1941, Ferguson tumbuh di lingkungan kelas pekerja yang keras, di tengah bayang-bayang galangan kapal dan kehidupan dermaga. Ayahnya bekerja sebagai pembantu tukang pelat kapal, sementara Ferguson muda membagi waktunya antara sekolah, magang sebagai pembuat perkakas, dan sepak bola jalanan.
Karier bermainnya sebagai striker terbilang produktif namun penuh liku. Dari Queen’s Park hingga St Johnstone, lalu Dunfermline dan Rangers, perjalanan Ferguson di lapangan kerap diwarnai kekecewaan. Bahkan, masa baktinya di Rangers—klub masa kecilnya—berakhir pahit setelah Final Piala Skotlandia 1969. Pengalaman itu membentuk karakter keras dan disiplin yang kelak menjadi ciri khasnya sebagai manajer.
Karir Sir Alex Ferguson Sepanjang Hidup
Karier kepelatihannya dimulai di East Stirlingshire, tempat reputasinya sebagai figur tegas dan menuntut mulai tumbuh. Setelah sempat menangani St Mirren, Ferguson mencapai puncak awal kejayaannya bersama Aberdeen, mematahkan dominasi Celtic dan Rangers serta menjuarai Piala Winners Eropa 1983 dengan mengalahkan Real Madrid.
Ketika tiba di Old Trafford pada November 1986, Ferguson mewarisi tim yang terpuruk dan berbudaya buruk. Dengan disiplin besi dan visi jangka panjang, ia perlahan membangun kembali United, bertekad menggulingkan Liverpool dari singgasananya. Setelah melewati masa-masa nyaris dipecat, kesuksesan akhirnya datang—dan tak terbendung.
Era 1990-an melahirkan generasi emas yang dipimpin oleh pemain muda akademi, diperkuat bintang-bintang dunia. Konflik dengan pemain seperti David Beckham dan loyalitasnya kepada Eric Cantona memperlihatkan dua sisi Ferguson: keras namun protektif.
Selama 27 tahun, Ferguson mempersembahkan 13 gelar Premier League, dua Liga Champions, dan segudang trofi lain. Ia pensiun pada 2013, meninggalkan warisan yang hingga kini masih membayangi penerus-penerusnya.
Lebih dari sekadar pelatih, Ferguson adalah arsitek sebuah era. Dari anak galangan kapal Glasgow hingga simbol kejayaan Manchester, kisahnya adalah bukti bahwa disiplin, keteguhan, dan visi mampu mengubah sejara tuna55